Monday, Apr 21st

Last update05:08:37 PM GMT

tv7Online MEDIA ONLINE IDEALIS REALISTIS

Korupsi PDAM Sidoarjo, Jaksa Bersikeras Jebloskan Djayadi, Terdakwa Vigid tidak ?...

E-mail Cetak PDF

poto : Terdakwa Vigid WaluyoSurabaya | tv7online  – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sidoarjo bersikeras menjebloskan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Delta Tirta Sidoarjo Djajadi ke penjara. Pembelaan (pledoi) terdakwa kasus dugaan korupsi peminjaman dana dari PDAM ke PS Deltras pekan lalu dimentahkan jaksa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya kemarin.

Sikap sama diberikan jaksa kepada terdakwa Vigit Waluyo, mantan pengurus PS Deltras. Dua poin inti pledoi terdakwa Djajadi ditanggapi JPU Wahyu Dwi Prasetya kemarin. Hal yang paling ditanggapi adalah soal barang bukti kerugian negara yang kini berada di tangan kejaksaan.

Sebelumnya, terdakwa memang mengatakan jaksa tidak mampu menunjukkan barang bukti kerugian negara dalam sidang. Itu dijadikan alasan terdakwa bahwa dalam kasus ini tidak ditemukan kerugian negara. Pihak terdakwa mempertanyakan keberadaan barang bukti bilyet giro (BG) yang diserahkan terdakwa kepada kejaksaan saat kasus ini baru diusut yang menurutnya tidak asli. Bahkan, terdakwa menilai kejaksaan tidak prosedural saat mencairkan BG yang menjadi barang bukti.

Dengan alasan itu pula terdakwa meminta uang Rp. 3 miliar yang dicairkan tersebut kepada kejaksaan, dengan alasan akan dipergunakan untuk operasional PDAM. Jaksa Wahyu mengatakan, dengan materi pembelaan seperti itu, berarti terdakwa Djajadi mengakui kalau uang Rp. 3 miliar yang ada di kejaksaan itu benar sebagai barang bukti kerugian negara. “Artinya Djajadi kan mengakui tiga miliar itu untuk dijadikan barang bukti,” tandasnya usai sidang. S

Soal BG dan barang bukti lain yang tidak dihadirkan di persidangan, dia menerangkan barang bukti kasus tersebut kini sudah berupa uang tunai dan ada di rekening kejaksaan. Soal keberadaan BG, Wahyu mengatakan saat ini BG tersebut berada di tangan bank, karena sudah dicairkan. Wahyu menjelaskan, saat baru disidik, kejaksaan memang meminta terdakwa agar barang bukti diserahkan berupa uang tunai. “Namun oleh terdakwa diberikan bilyet giro untuk dicairkan,” terangnya. Karena itu, lanjut dia, alasan terdakwa yang mengatakan bukti kerugian negara tidak ada di persidangan tidaklah benar. “Dan karena itu kami berkeyakinan terdakwa tetap bersalah dan layak untuk dihukum,” imbuhnya.

Sementara itu, terdakwa Djajadi dan Vigit enggan mengomentari tanggapan jaksa terhadap pledoi mereka. Keduanya memilih bungkam ketika dikonfirmasi wartawan. Vigit yang diuntungkan dalam perkara ini hanya bersuara soal uang pribadinya. yang mengaku uang pribadinya juga ditalangkan sebagai dana talangan demi kemajuan Deltras, dalam hal itu juga termasuk penggunaan uang pribadinya untuk pembayaran utang Deltras ke PDAM sebesar Rp. 3 miliar. “Saya hanya meminta hati nurani mantan Bupati Sidoarjo (Win Hendrarso, red) dan Pemkab terbuka dan mengganti uang saya pribadi yang dipakai untuk Deltras. Itu juga untuk dibayarkan utang yang saya pakai untuk membayar ke PDAM,” aku Vigit usai sidang.

Perlu diketahui terkait kasus korupsi yang menghebohkan perusahaan air minum milik dearah Sidoarjo tersebut, ternyata yang paling diuntungkan adalah terdakwa Vigid Waluyo lantaran ia sudah terbayarkan uang senilai Rp 3 miliar yang diperoleh dari rekom maupun disposisi baik itu Djayadi maupun mantan Bupati Win yang kini disidangkan. (toha)

 

Visitor

Facebook Fan Page

Tweet Update